Perempuan dan Dunia yang Tidak Lagi Mengajarkan Rasa Aman
“Barangkali perempuan hari ini tidak tumbuh menjadi kuat karena ingin, tetapi karena dunia terlalu sering meminta mereka bersiap kehilangan sesuatu.”
Ada masa ketika pulang ke rumah hanya berarti pulang ke rumah. Tidak ada ritual mengirim lokasi real-time. Tidak ada kebiasaan memeriksa kursi belakang mobil. Tidak ada rasa lega berlebihan ketika teman akhirnya mengirim pesan: “aku udah sampai.” Hari ini, hal-hal kecil seperti itu dianggap normal. Padahal mungkin justru itulah tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia yang kita tinggali.
Perempuan modern hidup di zaman yang aneh. Kita diberi lebih banyak kesempatan untuk berbicara, tetapi juga lebih banyak alasan untuk takut. Kita boleh sekolah setinggi mungkin, bekerja sekeras mungkin, bermimpi sejauh mungkin, tetapi tetap harus hafal cara melindungi diri setiap waktu. Dunia seperti membuka pintu besar-besar untuk perempuan, lalu diam-diam berbisik, “tapi kamu harus tetap hati-hati yaaa..”
Perempuan belajar hidup dari bisikan-bisikan semacam itu.
Mereka belajar berjalan cepat di malam hari. Belajar tersenyum secukupnya. Belajar membedakan tatapan yang aman dan yang tidak. Belajar kapan harus melawan dan kapan harus pura-pura tidak mendengar. Belajar bahwa menjadi terlalu ramah bisa disalahartikan, tetapi menjadi terlalu dingin juga bisa mengundang marah. Lama-lama hidup terasa seperti simulasi bertahan hidup yang tidak pernah selesai.
Ternyata, yang melelahkan bukan hanya ancamannya, tetapi fakta bahwa semua orang menganggap perempuan terlalu sensitif ketika mereka mencoba membicarakannya. Seolah rasa takut itu muncul dari imajinasi, bukan dari pengalaman kolektif yang diwariskan turun-temurun. Padahal hampir semua perempuan punya cerita. Tentang jalan yang dihindari. Tentang nomor yang diblokir. Tentang tangan yang terlalu berani. Tentang komentar yang membuat tubuh mendadak terasa asing bagi dirinya sendiri.
Hari ini kita hidup di dunia yang masih sering meminta perempuan untuk “jangan terlalu dipikirkan. Mungkin karena dunia lebih nyaman melihat perempuan tenang daripada jujur. Padahal perempuan hari ini sebenarnya sedang lelah. Lelah menjadi makhluk yang harus terus menerjemahkan bahaya sebelum bahaya itu benar-benar datang. Mereka menjadi ahli membaca perubahan nada bicara, gestur kecil, suasana ruang, bahkan energi seseorang. Bukan karena dramatis, tetapi karena tubuh perempuan terlalu lama dilatih untuk bertahan hidup. Kita hidup di era ketika rasa aman berubah menjadi kemewahan emosional.
Berita perang muncul di sela video resep masakan. Krisis iklim datang bersamaan dengan tagihan bulanan. Kekerasan digital menjadi konsumsi harian. Media sosial membuat semua tragedi terasa dekat sekaligus terlalu jauh untuk disentuh. Dunia bergerak begitu cepat sampai manusia tidak sempat merasa sedih dengan utuh. Di antara semua informasi itu, perempuan tetap dituntut untuk menjadi lembut.
Tetap menjadi ibu yang sabar.
Pasangan yang suportif.
Anak yang tidak merepotkan.
Pekerja yang profesional.
Teman yang selalu ada.
Seolah-olah dunia lupa bahwa perempuan juga manusia yang bisa ketakutan. Tetapi, mungkin yang paling menyedihkan adalah ini: perempuan akhirnya terbiasa hidup tanpa benar-benar merasa aman. Mereka tetap tertawa, jatuh cinta, pergi bekerja, membesarkan anak, membuat rencana masa depan; sambil diam-diam menyimpan skenario darurat di kepala mereka. Cadangan uang.
Nomor SOS.
Rute alternatif.
Teman yang bisa dihubungi tengah malam.
Insting yang terus dipaksa menyala.
Perempuan hari ini tidak hidup dalam kedamaian. Mereka hidup dalam kewaspadaan yang dipoles sedemikian rupa sampai terlihat seperti kemandirian, terlihat seperti punya banyak pilihan, tetapi sebenarnya tidak.
Di tengah dunia yang makin keras ini, ada sesuatu yang diam-diam menyelamatkan banyak perempuan: perempuan lain. Teman yang berkata, “kabari kalau sudah sampai.” Ibu yang mengajarkan anak perempuannya untuk percaya pada firasatnya sendiri. Komunitas kecil yang menjadi tempat seseorang bisa bicara tanpa takut dianggap berlebihan. Perempuan-perempuan yang saling menjaga meski mereka sendiri juga sedang lelah. Karena ketika sistem terasa terlalu jauh, sering kali manusia hanya bisa diselamatkan oleh manusia lain. Inilah bentuk perlawanan paling sunyi yang dimiliki perempuan hari ini: tetap peduli di dunia yang perlahan kehilangan empati.

(Woman Creators of Peace Circle menjadi ruang aman bagi perempuan Indonesia untuk berbagi cerita, didengar tanpa dihakimi, dan saling menguatkan dalam perjalanan menuju kedamaian)
Writer : Faza Rahim
Editor : Riri Lestari
